Di zaman bikin suratkabar atau majalah tidak perlu izin apa pun seperti sekarang ini, apa s
ajakah motif seseorang menerbitkan suratkabar atau majalah? Coba kita inventarisasi kemungkinan-kemungkinan motif di baliknya:
- 1. Idealisme (menegakkan keadilan, kebenaran, membela si lemah, menyuarakan kepentingan umum, menegakkan demokrasi, dlsb).
- 2. Bisnis (mengharapkan bisa jadi lembaga bisnis, kecil maupun besar)
- Politik (sebagai alat membela dan memperjuangkan aliran politik)
- Agama (untuk menyiarkan ajaran agama)
- Kepentingan sesaat (ingin dekat penguasa atau ingin jadi penguasa, mulai dari bupati/walikota, gubenrur, dlsb)
- Coba-coba
- Digoda/di “hasut” orang lain (terutama oleh para mantan wartawan)
- Menyalurkan hobi
- Belum ada pekerjaan lain (umumnya dilakukan oleh anak orang kaya yang baru pulang sekolah dari luar negeri)
- Ngobyek (untuk mencari penghidupan kecil-kecilan dengan asusmi akan ada saja orang yang takut kepada pers dan karena itu bisa diminta/diperas uangnya. Termasuk di kelompok ini adalah pers sebagai alat untuk mencari proyek)
Mungkin masih ada motif yang lain, atau gabungan di antara yang 10 itu. Misalnya gabungan antara idealisme dengan bisnis. Secara idealisme tercapai, secara bisnis juga amat menguntungkan. Atau idealisme dengan pemerasan. Idealisme penerbitnya adalah memberantas korupsi di muka bumi Indoensia, jalan yang ditempuh adalah memeras para koruptor.
Tapi kalau saya amati, sumber terbesar yang menyebabkan munculnya banyak sekali suratkabar atau majalah baru adalah kalangan wartawan. Kira-kira bisa kita kelompokkan seperti ini:
- Wartawan idealis. Yakni wartawan yang merasa idealismenya tidak tersalurkan di suratkabar tempatnya bekerja. Dia atau mereka merasa policy suratkabar/majalah tempatnya bekerja terlalu komersial yang lebih mementingkan aspek bisnis. Atau pemilik suratkabar/majalah sering memanfaatkan korannya untuk mencari obyekan bisnis atau jabatan politik untuk keuntungan pribadi sang pemilik. Wartawan jenis ini, setelah merasa dapat nama kemudian memilih keluar, menjadi investor atau mencari investor untuk mendirikan media baru.
- Wartawan yang merasa sudah pintar. Wartawan jenis ini merasa dirinya sudah sangat pintar melebihi si pemilik media tempatnya bekerja, atau melebihi pemimpin redaksinya. Dia merasa dirinya hebat sekali. Lalu merasa sudah semestinya menjadi pemimpin. Mereka lalu mencar-cari investor.
- Wartawan yang tidak puas karena sistem kerja dan sistem penggajian di tempat asalnya. Di antara mereka ada yang memang benar-benar diperlakukan tidak adil oleh perusahaannya. Tapi ada juga yang sebenarnya dia sendiri saja yang merasa diperlakukan tidak adil. Tipe wartawan seperti ini umumnya berusaha pindah dulu ke media lain, tapi tidak jarang juga (karena media lain juga sudah penuh), langsung mencari investor untuk membuat media baru.
- Wartawan ingin maju. Yakni wartawan yang benar-benar memang ingin maju, dan merasa dirinya mampu. Lalu, setelah mendapat pengalaman cukup di tempatnya bekerja, dia mencoba membuat media sendiri.
- Wartawan yang pensiun. Setelah lama jadi wartawan, lalu pensiun, maka rasa rindunya akan dunia pers tidak akan tertanggungkan. Mereka ini juga merasa sangat mampu dan terutama merasa sangat berpengalaman. Mereka ini umumnya juga lantas mencari investor dengan mengandalkan pengalamannya itu.
- Wartawan yang di PHK. Mereka ini jumlahnya tidak sedikit dan keinginannya untuk tetap bekerja di pers sangat besar. Maka mereka pun akan cari investor untuk membuat media sendiri.
- Wartawan yang sudah magang di media dan kemudian tidak bisa bekerja di media itu. Lalu mencari investor juga.
- Wartawan percobaan, yakni mereka yang mula-mula direkrut oleh sebuah media tapi kemudan tidak lulus masa percobaan terakhir. Mereka ini sudah terlanjur merasa jadi wartawan dan merasa menjadi orang pers. Maka mereka ini juga bisa jari investor.
Jadi kalau selama ini banyak orang pers yang ngedumel mengapa begitu banyak orang yang tidak tahu pers tiba-tiba masuk ke bisnis pers, sebenarnya banyak di antara mereka sendiri mulanya tidak ada minat masuk ke pers sama sekali. Mereka umumnya adalah “hanya” sumber berita yang pernah dikenal si wartawan, kemudian diincar untuk jadi investor.
Tentu si investor sendiri sebenarnya lebih banyak jadi “korban” rayuan atau “hasutan” para wartawan di atas. Tentu ada juga beberapa di antaranya yang akhirnya menikmati sebutan sebagai orang pers atau raja pers. Bahkan anak isteri mereka yang semula tidak ada yang tahu apa itu pers, tiba-tiba menjadi pemimpin umum atau pemimpin redaksi.
Mengapa banyak investor yang berhasil dirayu atau di “hasut” oleh para wartawan atau mantan wartawan?
- Umumnya mereka tidak tahu sama sekali realitas dunia pers. Mereka umumnya hanya pembaca koran yang di dalam benaknya sering mengagumi orang koran.
- Mereka punya uang atau punya aset (kantor/gedung/mesin/komputer) yang bisa dimanfaatkan sehingga kelihatannya hanya memanfaatkan aset yang sudah ada.
- Mereka umumnya merasa punya network yang akan bisa dimanfaatkan utjuk mengembangkan koran/majalahnya.
- Mereka umumnya mengerti manajemen sehingga merasa kemampuan manajemennya akan cukup untuk mengatasi manajemen koran/majalah.
- Mereka umumnya hanya merasa lemah di redaksional dan kini bagian yang lemah itu sudah akan diisi oleh orang yang merayunya.
- Mereka tergiur oleh rayuan/”hasutan” dari para wartawan itu karena biasanya si wartawan membawa alasan yang sangat menarik.
Alasan apa saja yang dipakai wartawan untuk merayu investor?
- Koran/majalah adalah bisnis yang menarik, bisa untung secara cepat, bisa membuat investor terkenal, gengsi investor naik dan akan bisa dekat dengan orang-orang penting (tidak jarang si investor kemudian memang minta tolong si wartawan untuk mendekati pihak-pihak yang diincar).
- Akan mudah cari pelanggan karena isinya akan dibuat sedemikian rupa menariknya (umumnya disertai dengan penilaian si wartawan akan jeleknya mutu jurnalistik koran-koran yang ada, terutama di tempatnya bekerja dulu).
- Akan mudah cari iklan, karena iklan ini sangat menggiurkan. Lalu menyebut berapa penghasilan iklan koran seperti Kompas atau Jawa Pos. Si investor pun mulai mabuk dan membayangkan akan bisa mendapatkan sebagian dari kue besar itu.
- Perayu berjanji akan kerja sekeras-kerasnya. Mereka ini ada yang dulunya memang pekerja keras, tapi ada juga yang dulu pun tidak pernah mau kerja keras.
- Kalau si wartawan dulu bekerja di koran yang maju, maka dia akan mengatakan kepada investor bahwa dialah yang membuat koran itu dulu maju.
- Kalau si wartawan dari koran yang tidak maju, maka dia akan mengatakan kepada investor bahwa manajemennya tidak bagus dan selalu menolak ide-ide yang diperjuangkannya.
- Biasanya juga menawarkan tim yang sudah jadi dan dipromosikan sebagai tim yang kuat dan handal. Kalau tim itu dibentuk dari koran yang akan disaingi, maka akan disebutkanlah bahwa “kita” akan gampang merebut pasarnya karena tim andalannya sudah hilang.
Banyaknya koran/majalah baru dalam kurun sembilan tahun terakhir ini, adalah satu kenyataan yang syah. Namun banyaknya koran/majalah baru tersebut juga akan membuat semakin banyak eks wartawan. Artinya juga akan semakin banyak memproduksi para perayu ulung. Dan akhirnya masih akan banyak sekali investor yang diincar. Memang banyak sekali investor yang sudah mulai “insyaf”, tapi masih akan lebih banyak lagi investor yang menyediakan diri untuk “tergoda”.
Sebagai Ketua Umum Serikat Penerbit Suratkabar (Majalah) yang baru saja terpilih, saya lagi mikir-mikir: apakah apa pun motif suratkabar/majalah itu didirikan semua harus dibina? Mulai kongres yang akan datang, pemilik suara di kongres tidak lagi hanya pengurus cabang-cabang SPS. Pemilik suara di kongres adalah para penerbit itu semua! Dengan demikian kongres SPS yang akan datang akan sangat seru! Pertengahan tahun ini nanti SPS akan mengadakan Jambore atau Konvensi Penerbit. Kalau seluruh penerbit, apa pun motifnya hadir di jambore itu, begitu pulalah gambarannya Kongres SPS yang akan datang!
Dahlan Iskan


