Melalui aklamasi seluruh peserta Kongres ke-22, Dahlan Iskan terpilih menjadi Ketua Umum SPS Pusat periode 2007 – 2011. Sebuah regenerasi kepemimpinan yang mulus, nyaris tak ada hambatan.
JAKARTA – Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) baru saja mendapatkan nahkoda anyar, setelah merampungkan hajatan empat tahunannya, Kongres ke-22, pada tanggal 12 – 15 November 2007 di Jakarta. Adalah Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Grup, yang kini menggantikan posisi Jakob Oetama (Pemimpin Umum Harian Kompas), sebagai Ketua Umum SPS, periode 2007 – 2011. Jakob Oetama selanjutnya menduduki kursi Ketua Dewan Pertimbangan, sebuah lembaga di tubuh SPS yang bertugas memberikan masukan dan nasihat kepada pengurus SPS Pusat.
Kongres ke-22 yang dihadiri 22 cabang dari 28 cabang SPS di seluruh Indonesia itu total diikuti 96 peserta. Diawali dengan seminar setengah hari bertajuk Menuju Aplikasi Konvergensi Media, yang sekaligus menjadi tema sentral kongres. Ada dua hal pokok yang dibahas selama kongres yang berlangsung dua hari efektif tersebut. Menyangkut program kerja kepengurusan empat tahun mendatang, dan masalah organisasi, terutama menyangkut perubahan Peraturan Dasar (PD)/Peraturan Rumah Tangga (SPS).
Sejumlah perubahan penting mewarnai PD/PRT SPS kali ini. Antara lain tentang peserta kongres. Apabila selama ini kongres SPS hanya dihadiri Pengurus Pusat dan perwakilan cabang (Ketua dan Sekretaris), maka kelak pada Kongres ke-23 tahun 2011, peserta kongres adalah seluruh penerbit pers yang menjadi anggota SPS. ”Sehingga Kongres ke-23 SPS mendatang jumlah pesertanya bisa mencapai ratusan, dan mereka harus datang sendiri tidak dibiayai oleh SPS Pusat, sebagaimana selama ini jamak dilakukan,” tegas Dahlan Iskan, Ketua SPS Pusat periode 2007 – 2011 usai kongres berlangsung.
Hingga November 2007, tercatat 409 penerbit media cetak dari seluruh Indonesia menjadi anggota SPS, dari perkiraan total jumlah penerbit pers yang sebanyak 889 buah. Disamping status peserta kongres, bidang organisasi juga memutuskan adanya perubahan posisi dan fungsi sekretaris jenderal, yang tidak lagi menginduk kepada Ketua Umum, melainkan kepada Ketua Harian. Perubahan lain, jika dilangsungkan rapat kerja nasional, maka pesertanya juga bukan hanya pengurus pusat dan utusan cabang, melainkan sudah melibatkan seluruh anggota.
Saling menghindar
Lazimnya kongres di organisasi lain, isu paling menarik tentu saja adalah soal pemilihan ketua umum baru. Hingga hari kedua kongres yang sekaligus upacara pembukaan dilangsungkan, 13 November 2007, belum ada indikasi kuat ketua umum SPS Pusat akan beralih dari tangan Jakob Oetama. Namun, bagi peserta yang membaca arah pidato Jakob Oetama pada upacara pembukaan, nampaknya sudah ada sinyal dari Pemimpin Umum Kompas ini, bahwa ia ingin untuk tidak dipilih kembali. Dalam beberapa kali kesempatan bertemu pengurus SPS Pusat, Jakob sempat berujar, ”Saya ini kan sudah memulai regenerasi di tubuh Kompas. Mengapa tidak juga terjadi di SPS Pusat. Apa tidak ada orang lain di SPS yang bisa menggantikan saya?”
Dan, ucapan seperti itu kembali ia kemukakan di depan peserta kongres yang memadati ballroom hotel Santika, Jakarta, mengikuti upacara pembukaan kongres ke-22 SPS. Secara terbatas, di arena kongres lepas upacara pembukaan tersebut, belum terdengar alternatif calon kuat pengganti Jakob Oetama.
Sejalan dengan itu, Dahlan Iskan yang selama ini disebut-sebut sebagai ”Orang Nomor 2” di industri media cetak nasional, selalu menolak dengan tegas setiap kali diminta maju sebagai ketua umum SPS Pusat. ”Sepanjang pak Jakob masih berkenan menjadi ketua umum, sudah menjadi harga mati bagi saya untuk tidak mau menjadi ketua umum SPS Pusat,” ucapnya tegas pada malam kedua kongres di depan sejumlah peserta.
Namun, isyarat Jakob Oetama pada upacara pembukaan pagi harinya, tetap menjadi catatan sejumlah peserta kongres. Hingga puncaknya pada pagi hari ketiga kongres, Jakob Oetama memanggil Sekjen SPS Pusat 2003 – 2004 Amir Effendi Siregar dan Ketua Pelaksana Kongres M Ridlo ’Eisy di ruang VIP Hotel Santika. Intinya, ia mengatakan hendak mundur dari pencalonan ketua umum SPS Pusat yang sejak awal telah diusulkan pengurus harian SPS Pusat. Alasannya soal regenerasi kepemimpinan yang telah ia pelopori di kantornya sendiri, dan sudah saatnya memang SPS dipimpin orang yang lebih muda.
Walaupun sempat diyakinkan bahwa SPS Pusat masih membutuhkan peran dirinya sebagai pengayom para anggota, Jakob tetap bergeming sembari menambahkan, ”Saya masih akan tetap membantu SPS Pusat, tapi di Dewan Pertimbangan saja.” Melalui Soeparno Wonokromo, pemimpin kelompok Jawa Pos di wilayah Sumatera Bagian Selatan, Jakob kemudian berbicara dengan Dahlan Iskan. Intinya meminta agar Dahlan Iskan bersedia memimpin SPS Pusat sebagai ketua umum.
Singkat cerita, kursi kepemimpinan SPS Pusat pun berganti. Dahlan Iskan dengan aklamasi berhasil ditasbihkan sebagai ketua umum SPS Pusat periode 2007 – 2011. ”SPS Pusat hanya akan membantu penerbit anggota yang ingin maju dan berkembang saja,” tegas Dahlan mengungkapkan dalam siaran pers usai dinyatakan terpilih sebagai ketua umum SPS Pusat oleh kongres.
Muka-muka baru
Saat hendak dipilih menjadi ketua umum, Dahlan sebenarnya sudah berada di Surabaya. Ia –sebagaimana pengakuannya dalam siaran pers—sengaja pulang lebih awal ke Surabaya agar tidak dipilih sebagai ketua umum SPS Pusat. Tapi, arus kuat peserta dan pertimbangan Jakob Oetama menginginkan hal berbeda. Meski tidak berada di lokasi kongres, seluruh peserta bisa menyepakati Dahlan menjadi ketua umum.
Di bawah kepemimpinan Dahlan Iskan, tentu SPS Pusat akan mengalami perubahan di sana-sini, yang berujung pada perbaikan dalam tubuh organisasi maupun kemajuan para anggota. Tak cuma figur ketua umum yang berganti. Gerbong kepengurusan SPS Pusat pun banyak berubah, dengan sebagian diantaranya adalah muka-muka baru, yang belum pernah duduk di kursi kepengurusan SPS Pusat (lihat box).
Diantara muka baru itu adalah Agung Adiprasetyo (Kompas) dan Wim Tangkilisan (Suara Pembaruan) di tubuh Dewan Pimpinan. Sementara di tubuh pengurus harian yang diketuai M Ridlo ’Eisy (Galamedia – Bandung), ada figur anyar seperti Soeparno Wonokromo (Sumatera Ekspres – Palembang), Fajar Kusumawardhani (Kedaulatan Rakyat – Jogja), Erick Tuapattinaya (Majalah Kartini), dan Waris Sukiswati (Kompas). Sementara kursi Sekretaris Jenderal diisi Sukardi Darmawan, yang dalam kepengurusan 2003 – 2007 menjabat Wakil Sekjen. (asw)


